3 Jurus BI Hadapi Normalisasi Kebijakan AS

3 Jurus BI Hadapi Normalisasi Kebijakan AS
Promo Hosting Murah



Jakarta, CNN Indonesia — Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap tiga langkah bank sentral dalam menghadapi normalisasi kebijakan (normalization policy) yang akan dilakukan sejumlah negara maju, terutama Amerika Serikat (AS).

Read More

Pertama, dengan melakukan stabilisasi nilai tukar, bekerja sama koordinasi erat dengan kementerian keuangan agar kenaikan US Treasury yield dampaknya tetap mendukung stabilitas sistem keuangan Indonesia,” ujar Perry pada “Seminar on Strategic Issues in G20: Exit Strategy & Scarring Effect” yang merupakan acara sampingan G20 Presidensi , Kamis (17/2).

Demi stabilisasi nilai tukar, BI akan mengurangi suntikan likuiditas secara bertahap terhadap perbankan. Keputusan ini diambil setelah bank sentral menambah likuiditas perbankan (quantitative easing), sekitar 5,6 persen Pendapatan Domestik Bruto, selama dua tahun terakhir.

“Kami sudah akan mulai menaikkan giro wajib minimum secara bertahap pada Maret, Juli dan September ini dan kembali seperti sebelum covid, tapi dengan tetap memastikan bank mampu menyalurkan kredit,” jelasnya.

Langkah kedua adalah menjaga suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen, suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen. Langkah ini dilakukan sembari memperhatikan inflasi.

“Kami akan tetap jaga rendah (suku bunga) sampai ada tanda-tanda kenaikan inflasi secara fundamental, itu langkah kedua,” sebut Perry.

Ketiga, membuat kebijakan ekonomi makro dan sistem finansial agar pasar negara berkembang, khususnya Indonesia, berjalan secara baik. Salah satu strategi yang dilakukan adalah membentuk perjanjian Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan negara-negara tetangga.

“Kita harus tahan dalam menghadapi normalisasi proses, lebih dari itu kita juga melakukan kerja sama antara bank sentral dan juga dengan negara2 lain termasuk Bilateral Currency Swap Arrangement, termasuk juga penggunaan lebih banyak bilateral local currency untuk promosi perdagangan dan investasi,” kata Perry.

Sebagai informasi, sejumlah bank sentral, termasuk Bank Sentral AS (The Federal Reserves) mulai ancang-ancang menerapkan normalisasi kebijakan pascapandemi dengan menaikkan suku bunga acuan. Hal ini dilakukan untuk meredam lonjakan inflasi yang terjadi saat ekonomi mulai bangkit.

Bulan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bakal menaikkan suku bunga Maret mendatang. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa pemulihan di ekonomi terbesar dunia itu cukup kuat sehingga dapat menangani biaya pinjaman yang lebih tinggi.

[Gambas:Video CNN]
(tdh/sfr)




Source link

Leave a Reply