5 Alasan Mengapa Bantuan yang Sering Diberikan Dapat Dirasakan sebagai Kewajiban ?

Illustrasi Memberi Bantuan
Illustrasi Memberi Bantuan

Liputanpers.com

Dalam hubungan sosial dan interpersonal, salah satu fenomena yang cukup menarik untuk dibahas adalah bagaimana bantuan yang secara terus-menerus diberikan bisa berubah persepsinya dari sebuah tindakan sukarela menjadi sebuah kewajiban yang diharapkan. Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi cara individu memandang bantuan yang diberikan, tetapi juga bagaimana mereka memandang pemberi bantuan itu sendiri. Di balik ini semua terdapat dinamika psikologi yang kompleks yang mencakup aspek-aspek seperti norma sosial, ekspektasi, ketergantungan, dan rasa berhak atau entitlement.

Read More

1. Norma Sosial dan Ekspektasi yang Berkembang

Dalam setiap kelompok sosial, terdapat norma-norma yang tidak tertulis yang mengatur interaksi antar individu. Salah satu norma tersebut adalah ekspektasi bahwa kebaikan yang diberikan akan terus berlanjut jika sudah dimulai. Ketika seseorang secara rutin menerima bantuan, baik dalam bentuk fisik, emosional, atau finansial, secara tidak langsung norma sosial dan ekspektasi tersebut mulai terbentuk. Penerima bantuan ini bisa jadi mulai menganggap bahwa bantuan yang mereka terima adalah sesuatu yang ‘seharusnya’ mereka dapatkan.

2. Ketergantungan yang Terjadi

Ketika bantuan terus-menerus diberikan, bisa terjadi fenomena ketergantungan. Penerima bantuan mungkin menjadi tergantung pada pemberi dan mulai kehilangan kemampuan untuk mengatasi masalah atau tantangan tanpa bantuan tersebut. Fenomena ini dapat semakin diperparah jika pemberi bantuan juga merasa sebuah kepuasan batin atau pengakuan sosial ketika membantu, sehingga terus memberikan dukungan tanpa menyadari bahwa mereka secara tidak langsung mengurangi kemandirian penerima bantuan.

3. Teori Pertukaran Sosial

Teori pertukaran sosial, yang dikemukakan oleh George Homans dan Peter Blau, mengajukan bahwa hubungan sosial adalah hasil dari pertukaran materi dan non-materi yang menguntungkan kedua belah pihak. Dalam konteks ini, jika salah satu pihak terus menerus memberikan bantuan tanpa menerima imbalan yang sepadan, ketidakseimbangan terjadi. Hal ini bisa mengarah pada persepsi bahwa bantuan tersebut bukan lagi sebuah tindakan sukarela, tetapi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi untuk mempertahankan hubungan tersebut.

4. Mengurangi Disonansi Kognitif

Disonansi kognitif terjadi ketika ada konflik antara keyakinan atau nilai seseorang dengan perilaku mereka. Penerima bantuan yang terus-menerus mungkin merasa bersalah atau tidak nyaman karena menerima tanpa memberi imbalan yang sepadan. Untuk mengurangi perasaan tidak nyaman ini, mereka mungkin membenarkan situasi tersebut dengan mengubah persepsi mereka tentang bantuan, yaitu dari tindakan sukarela menjadi hak atau kewajiban yang harus mereka terima.

5. Kehilangan Kontrol dan Pengaruh Rasa Berhak

Ketakutan akan kehilangan kontrol atas kehidupan sendiri dapat membuat individu merasa perlu menstabilkan situasi dengan menganggap bantuan yang diterima sebagai sesuatu yang permanen. Ketika ini terjadi, rasa berhak bisa berkembang. Rasa berhak ini merupakan respons defensif yang muncul dari ketidakamanan, di mana penerima bantuan mulai memandang bantuan yang diterima sebagai hak mereka, bukan lagi sebagai kebaikan yang diberikan oleh orang lain.

Kesimpulan

Memahami bagaimana bantuan yang berulang bisa dilihat sebagai kewajiban memberikan wawasan penting tentang dinamika hubungan manusia. Penting bagi kedua pihak dalam hubungan untuk mengenali dan mengelola ekspektasi serta ketergantungan yang mungkin berkembang. Komunikasi yang efektif, penetapan batasan yang jelas, dan upaya untuk mempertahankan keseimbangan dalam pemberian dan penerimaan adalah kunci untuk menghindari pembentukan rasa berhak yang bisa merusak hubungan yang sehat dan saling menguntungkan.