Jakarta, CNN Indonesia — Pihak berwenang di Fiji menyita kapal pesiar milik oligarki Rusia pada Kamis (5/5). Kapal disita berdasarkan surat perintah Amerika Serikat (AS) dan permintaan Departemen Kehakiman.

Kapal pesiar ‘Amadea’ berlabuh di Lautoka, Fiji di Pasifik Selatan dan diambil alih otoritas setempat.

“Amadea tunduk pada penyitaan berdasarkan kemungkinan penyebab pelanggaran hukum AS, termasuk UU Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional, pencucian uang dan konspirasi,” kata Departemen Kehakiman setempat dalam sebuah pernyataan resmi, seperti dikutip dari AFP.

‘Amadea’ merupakan kapal pesiar milik oligarki Rusia Suleiman Kerimov. Ia disebut salah satu dari sekelompok oligarki Rusia yang mendapat untung dari Pemerintah Rusia melalui korupsi dan aktivitas jahatnya di seluruh dunia, termasuk pendudukan Krimea.

AS telah menjatuhkan sanksi terhadap oligarki Rusia yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai bagian dari sanksi ekonomi atas invasi ke Ukraina.

Dari keterangan departemen itu, Kerimov telah menghasilkan banyak uang dari perusahaan energi dan keuangan besar Rusia termasuk Gazprom dan Sberbank. Dia juga menduduki jabatan di pemerintahan dan anggota Dewan Federasi Rusia.

Sementara itu, pengacara Fiji yang mewakili Millemarin Investment Ltd, pemilik terdaftar ‘Amadea’, sudah mengajukan permohonan agar kapal disimpan di Lautoka sejak kedatangannya pertengahan April lalu.

Pihaknya pun mengajukan perkara tersebut ke Pengadilan Tinggi Fiji pekan ini untuk mencegah penyitaan sambil menunggu banding terhadap langkah tersebut. Direktur penuntutan umum Fiji berkata pengadilan akan memutus perkara ini pada Jumat.

Penyitaan kapal seolah jadi peringatan terhadap oligarki Rusia yang korup bahwa mereka tidak dapat bersembunyi.

“Tidak ada tempat persembunyian untuk aset penjahat yang mendukung rezim Rusia,” ujar Jaksa Agung AS Merrick Garland dalam sebuah pernyataan.

“Departemen Kehakiman akan tanpa henti dalam upaya untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang memfasilitasi kematian dan kehancuran yang kita saksikan di Ukraina.” [Gambas:Video CNN] (els/bir)

[Gambas:Video CNN]



Source link