Bappebti Ungkap Modus Penawaran Robot Trading

Bappebti Ungkap Modus Penawaran Robot Trading
Promo Hosting Murah



Jakarta, CNN Indonesia — Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) membeberkan modus penawaran yang dilakukan oleh robot trading.

Read More

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Bappebti Tirta Karma Sanjaya mengatakan penyedia layanan robot trading biasanya menjanjikan fix income atau profit sharing. Tak cuma itu, mereka juga bisa menawarkan produknya melalui iklan radio, TV, media elektronik, dan media sosial.

“Nah, ini kemudian penawaran robot trading dengan menjanjikan income (penghasilan) atau profit sharing (bagi hasil) biasanya banyak di media sosial,” imbuhnya dalam mengadakan diskusi publik bertajuk ‘Penipuan Investasi Online’, Rabu (30/3).

Kemudian, perusahaan yang menawarkan robot trading juga memberikan janji atau iming-iming iklan yang menyesatkan, seperti pernyataan ‘dengan tidur nyenyak, sudah dapat untung’.

Selain itu, mereka juga menawarkan jasa sewa robot trading melalui member get member. Hal itu biasanya ditawarkan dalam paket investasi yang berupa jasa sewa robot, deposit atau modal yang diperlukan, dan besarnya profit sharing.

Menurut Tirta, robot juga menghasilkan profit dalam prosentase tertentu, biasanya 1 persen per hari atau 15 persen hingga 30 persen per bulan. Tidak hanya itu, robot juga akan membatasi kerugian dalam prosentase tertentu, biasanya 10 persen.

Robot trading juga umumnya digunakan di pialang berjangka (broker) ilegal, serta tidak dapat digunakan di semua broker meskipun sama-sama menggunakan meta trader 4 (MT4) atau MT5.

“Robot trading juga menggunakan sistem member get member dengan iming-iming akan mendapatkan bonus jika member berhasil merekrut member baru,” sambung Tirta.

Perusahaan penjual robot trading juga mengaku memiliki legalitas Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) yang dikeluarkan oleh Kemendag.

Lebih lanjut, Tirta juga menuturkan ciri-ciri perusahaan investasi yang menggunakan robot trading di Indonesia. Menurutnya, mereka biasanya memiliki ciri-ciri yang hampir sama.

Pertama, izin usaha yang digunakan adalah izin pendirian usaha beserra SIUPL, namun tidak memiliki sertifikasi pengumpulan dan pengelolaan dan masyarakat.

Kedua, mempromosikan robot trading sebagai solusi untuk menghasilkan fix income di samping menjalankan bisnis jaringan (MLM) dengan sasaran masyarakat awam.

Ketiga, member tidak mendapatkan copy file robot trading, atau hanya diinfokan akun trading untuk monitoring transaksi.

Keempat, perusahaan bekerja sama dengan pialang fiktif atau pialang tidak resmi. Kelima, mekanisme harga dimanipulasi, sehingga terkesan robot trading selalu dapat menghasilkan profit yang lebih besar daripada risikonya.

Keenam, keuntungan yang dibagikan kepada member berasal dari dana member itu sendiri (money game berbasis ponzi), bukan dari kegiatan transaksi robot trading.

Keberadaan robot trading belakangan meresahkan masyarakat lantaran banyak orang yang tertipu. Terakhir Bappebti telah memblokir 336 robot trading termasuk Net89.

Robot trading Net89 sendiri dikabarkan widrawal atau member dapat mencairkan kembali dananya melalui empat broker. Yakni, Max Global Fx (MG), Zen Trade (ZT), Global Premier (GP) dan Bethel Aster (BTA). Keempat broker itu juga merupakan broker internasional yang tidak memiliki badan hukum di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Center of Digital Economy and SMEs INDEF Eisha M Rachbini mengatakan maraknya korban penipuan investasi online karena keadaan ekonomi yang buruk akibat pandemi covid-19 dan janji keuntungan instan yang ditawarkan.

“Hal itu menarik investor untuk mendapatkan return yang tinggi, sehingga mereka dapat pemasukan ketika pendapatan menurun, pekerjaan tidak pasti, mereka ke beralih ke pasar investasi secara digital,” ungkapnya.

Menurut Eisha, hal tersebut juga diperkuat dengan munculnya fenomena sosial; iming-iming investasi return tinggi dari passive income, istilah ‘crazy rich’ dan flexing, termasuk gaya hidup mewah.

Tidak hanya itu, literasi keuangan dan digital masyarakat Indonesia yang rendah juga menjadi faktor pendorong banyaknya orang yang tertipu investasi online. Oleh karena itu, ia pun merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk meminimalisir kasus penipuan investasi online.

“Rekomendasi dari kami, salah satunya meningkatkan kemampuan digital, ini sangat perlu karena bagaimana pun penggunaan digital yang potensinya besar, harus digunakan untuk kegiatan produktif,” terang Eisha.

Selanjutnya, peningkatan literasi keuangan. Ia mengatakan masyarakat harus paham terhadap produk keuangan legal, manfaat, dan risikonya. Terakhir, penguatan kelembagaan dan ekosistem keuangan digital. Hal itu bisa dilakukan dengan memperkuat peran dan kerja sama antar lembaga, serta penguatan kerangka regulasi mengenai keuangan digital.

[Gambas:Video CNN]
(mrh/bir)

[Gambas:Video CNN]




Source link

Leave a Reply