Cerpen Karangan: Hamida Rustiana Sofiati
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)

Lolos moderasi pada: 28 July 2021

Sore itu aku bermain sepak bola sendirian, tendanganku yang kuat menyebabkan bolaku menggelinding jauh dari rumahku. Rumah di sebuah kampung nan asri, aku terlahir di kota tapi sejak umur 3 tahun aku pindah ke kampung untuk menemani nenek, ibu dari ayahku. di usianya yang telah menua dan menjanda, ia ingin ditemani oleh anak, menantu dan cucunya. Ya sudahlah, dengan ringan hati ayahku mengiyakan keinginan nenekku. Namun siapa sangka, perpindahanku kemari membuatku mengenal, Leony.

“Hei, tunggu! Berhenti bola!” ucapku sambil berlari mengejar bolaku yang terus menggelinding tak mau berhenti, dengan nafas tersenggal aku terus mengejar bola itu yang ternyata sudah dipegang oleh seorang gadis. Ia cantik namun matanya biru dan rambutnya coklat.

“Kamu siapa? Bisakah kau mengembalikan bolaku” ucapku pada gadis berbaju putih itu.
“Tentu, ini bolamu. Hai namaku Leony” ucap gadis itu dengan ramahnya
“Leony? Mengapa namaku terdengar asing di telingaku? Apakah kamu warga baru di sini?” tanyaku sambil terus menatap dandanan gadis itu yang menurutku berbeda dengan kawan-kawan kampungku.
“Aku baru saja pindah ke tempat ini, dulu aku tinggal di Netherland” jawabnya
“Oooo Netherland itu dimana? Apakah jauh dari sini?” tanyaku lebih lanjut
“Sangat jauh. Kau bisa berhari-hari baru sampai setelah naik kapal pesiar. Oh iya, dari tadi aku terus yang berbicara, namamu siapa?” tanya gadis itu
“Namaku Hasan Al Bisri, aku biasa dipanggil Hasan” jawabku
“Oh baiklah, aku akan memanggilmu Hasan. Hasan, maukah kau main bola bersamaku?” tanya gadis itu.
“Tentu aku mau. Dimanakah rumahmu, Leony?” tanyaku masih sangat sulit mengadaptasikan lidahku untuk memanggil namanya.
“Ini rumahku” ucap Leony sambil menunjuk sebuah rumah besar nan megah, bentuk rumah itu sangat lain dengan bentuk rumah warga kampung ini. Rumah itu luas, kokoh dan memiliki banyak pilar dan satu lagi yang selalu kuingat adalah model jendelanya yang mirip sekali dengan rumah-rumah yang ada di cerita dongeng Cinderella.
“Kau tinggal di rumah ini, Leony? Wah.. rumahmu besar sekali ya dan bagus mirip sekali dengan rumah yang ada di dalam dongeng” ucapku takjub dan Leony hanya membalas dengan senyuman manisnya.

“Ayo main yuk” ajaknya
“Ayo” jawabku. Kamipun bermain bersama, Leony melempar bola dan aku yang menangkapnya. Jika bola ada di tanganku maka aku yang akan melempar dan Leony yang menangkap, begitu seterusnya hingga petang menghadang.

“Hasan? Kamu ngapain nak, di sini?” tanya nenekku
“Aku bermain bola nek sama Leony. Iya kan, Le..o..ny” ucapku sambil menunjuk Leony yang masih berdiri di depanku.
“Sudah sore sayang, ayo pulang” ucap nenekku yang langsung begitu saja menarik tanganku tanpa memedulikan Leony. Sepanjang perjalanan pulang, nenek terus saja menggandeng tanganku dan bisa kurasakan tangannya yang gemetaran.

“Ada apa nek? Mengapa tangan nenek bergetar? Apakah nenek sakit?” tanyaku
“Tidak nak. Nenek baik-baik saja, yang penting sekarang kita pulang dan segera membersihkan diri” ucap nenek

“Anto, kau harus membawa Hasan ke Pondok Pesantren” ucap nenek saat kami tengah asyik nonton tv bersama
“Lo, memangnya kenapa bu? Bukankah Hasan masih kecil, kasihan bu” ucap ayahku
“Yah, aku kok merasakan ada yang ganjil ya sejak Hasan pulang dari main bola tadi” ucap ibuku
“Apa maksudmu?” tanya Ayahku
“Entahlah Yah, tapi aku merasa ada yang ganjil dengan anak kita” ucap ibuku
“Anakmu habis main dengan cucu madam Emma” ucap nenekku
“Apa? Benarkah itu?” ucap kedua orangtua serentak sontak kaget dengan pernyataan nenekku
“Iya ayah, tadi aku bermain bola dengan Leony di rumahnya. Rumahnya bagus lo Yah, ada banyak tiang-tiang besar dan juga jendelanya seperti di dongeng. Bagus sekali” ucapku

“Anakku, mulai sekarang kamu mainnya dengan teman yang lain ya, selain Leony maksud ayah” ucap ayahku lembut
“Kenapa ayah? Leony anak yang baik kok. Matanya biru, rambutnya coklat dan bajunya seperti baju yang ada di cerita-cerita dongeng” ucapku
“Anakku, dia berbeda dengan kita. Mulai sekarang kamu main dengan yang sama dengan kita ya” ucap ibuku
“Em.. baiklah” ucapku. Kemudian ibu mengajakku tidur di kamarnya sedangkan ayah tidur di kamarku. Saat akan menutup kelambu, aku melihat Leony tengah bermain sendiri di lapangan.

“Kau lihat apa nak?” tanya ibuku
“Itu ada Leony bu. Kenapa dia bermain sendiri ya di lapangan malam-malam?” tanyaku, sontak membuat ibuku kaget dan sesegera mungkin menutup kelambu kemudian mengajakku tidur. Sebelum tidur, tak lupa ibu mengajakku membaca do’a dan ayat kursi yang diajarkan guruku di sekolah.

Keesokan harinya aku bersekolah seperti biasa dan tanpa kuketahui ternyata ibuku telah mengajukan pindah sekolah ke kepala sekolahku. Alhasil, minggu depan aku sudah bersekolah di kota dan sepulang sekolah, aku langsung mengaji di Pondok Pesantren. Awalnya aku sering menangis, merindukan ibu tapi lambat laun aku jadi senang di Pondok Pesantren.

“Bagaimana belajarmu di PonPes, anakku?” ucapku sewaktu ibu mengunjungiku
“Aku senang bu, di sini aku dapat banyak kawan. Oh iya bu, pas aku datang ke sini Leony juga ikutan ngantar kok bu tapi hanya sampai di gerbang depan terus ia pulang” ucapku

“Pak Ustad, bagaimana ini? Saya takut ada apa-apa dengan anak saya” ucap ibuku
“Ibu tenang saja, itu akan menjadi pertemuan yang terakhir dengannya. Setiap hari kita semua membaca do’a agar terhindar dari godaan makhluk-makhluk Allah yang lain” ucap Ustadz Rahman
“Begitu ya Ustadz” tukas ibuku
“Bu, nanti kalau Hasan sudah lulus dari PonPes ia pasti bisa melindungi dirinya sendiri” ucap Ustadz Rahman.

11 tahun kemudian
Hari ini adalah Hari Kelulusanku di PonPes, betapa bahagianya aku bisa kembali ke rumah setelah sekian tahun tidak diperkenankan pulang. Seusai acara tasyakuran, kedua orangtuaku menjemputku untuk pulang ke rumah nenek. Akupun jadi teringat Leony.

“Ayah, apa kita akan ke rumah nenek?” tanyaku
“Iya nak. Nenekmu pasti akan bahagia melihatmu telah lulus PonPes” ucap ayahku namun aku bisa melihat gurat-gurat cemas diantara wajah ayah dan ibu.
“Asyik, akhirnya bisa mencicipi kolak pisang nenek dong. Heheh” ucapku.

Mobilkupun terus melaju hingga memasuki gerbang desa kami. Dan aku bisa melihat sendiri dengan mata kepalaku satu kenyataan yang membuat bulu kudungku merinding. Di ujung gerbang desa itu ada sebuah rumah peninggalan Belanda yang sudah rapuh gentengnya dan hanya tinggal tembok juga pilar. Aku jadi teringat masa laluku saat aku bermain bola dengan Leony. Rumah itu masih berdiri dengan megahnya sehingga bisa memanjakan mata yang melihat. Kuamati dengan seksama rumah itu, namun ayah tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya sehingga kami sampai di rumah nenek begitu cepat.

“Kau sudah sampai cucuku, sayang” ucap nenek
“Nenek?” ucapku sambil memeluknya erat
“Ayo masuk. Nenek sudah membuatkan kolak pisang kesukaanmu” ucap nenek. Kemudian kamipun masuk dan menikmati kolak pisangnya.

Seusai makan kolak, aku masih penasaran dengan Leony.
“Nenek, mengapa rumah Leony hancur? Leony pindah kemana?” tanyaku
“Cucuku sayang, rumah itu sedari ayahmu kecil ya sudah hancur” ucap nenek
“Apa maksud nenek?” tanyaku
“Hasan, maksud ibu dan ayah mengirimmu ke pondok pesantren itu bukan tanpa sebab. Dulu, kamu hampir saja diganggu oleh hantu Leony. Hantu Leony memang sering mengajak bermain anak-anak kecil dan beberapa hari kemudian anak kecil itu akan menghilang” ucap ibuku
“Apa? Benarkah itu? Berarti yang dulu pernah mengajakku bermain adalah hantu?” ucapku kaget
“Iya nak, Leony adalah hantu. Dulu, di kampung ini kedatangan seorang wanita Belanda dengan cucunya. Wanita itu bernama Emma dan cucunya bernama Leony. Kedatangan Emma kemari bukan tanpa sebab melainkan ia ingin melupakan kematian kedua orangtua Leony yang tragis. Kedua orangtua Leony meninggal dalam sebuah kecelakaan dan tubuh mereka gepeng terlindas truk besar. Tragedi itu membuat hati Emma sedih sehingga ia pindah kemari untuk melupakan namun ia tidak bisa, hingga suatu ketika ia mengajak Leony bunuh diri dengan cara meminum obat tidur sampai over dosis” tukas nenek panjang lebar.

Glek.. berarti saya pernah punya teman hantu. Astaghfiruallah hal ‘adzim…

Cerpen Karangan: Hamida Rustiana Sofiati
Facebook: facebook.com/zakia.arlho

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com


Cerpen Kawanku Leony merupakan cerita pendek karangan Hamida Rustiana Sofiati, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+

” Baca Juga Cerpen Lainnya! “


Oleh: Shani.ds

“Tek, Tek, Tek.” jam dindingku berdetak waktu menunjukkan pukul jam 23.45 PM. Sudah larut malam, tapi mataku masih terjaga, belum ingin tidur, hening, hanya suara tokek saja yang menemani,



Oleh: Nur Halisa

Namaku Silvi. Aku bersekolah di SMA unggulan Surabaya, sekarang aku sudah kelas XII. Aku mempunyai teman yang bernama Rey. Rey suka padaku. Dia pernah menebakku tapi aku menolaknya. Aku



Oleh: Selvy Nurmala

Pagi itu Samantha masih tertegun di meja tulis usangnya. Ia tak pernah tau apa yang harus Ia lakukan kecuali menulis dan berharap mimpinya akan terlaksana. Pagi yang menjenuhkan. Namun



Oleh: Annisa Kusuma Noviyanti

Pagi ini, Renita sengaja berangkat awal supaya tidak terlambat seperti hari-hari yang lalu. Dia berjalan menyusuri koridor kelas 9I sampai 9A. Dan langkahnya terhenti ketika di depan 9B, dia



Oleh: Rizka Diana Anggraeni

Aku masih terduduk diam di atas tempat tidur dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhku, kejadian yang terasa begitu nyata baru saja membuatku hampir kehabisan oksigen untuk bernapas, suara jerit


8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”





Source link

Komunitas Penulis Cerpen Indonesia, Kumpulan Cerpen Karya Anak Bangsa