Cerpen Karangan: Wuri Wijaya Ningrum
Kategori: Cerpen Galau

Lolos moderasi pada: 17 July 2021

Ada satu titik dimana aku merasa sangat kecewa karena sebuah perbuatan. Sampai membalas pesan atau menjawab panggilan pun aku enggan. Aku hanya bisa menangisi nasibku dalam diam. Kemudian menyesali tindakan yang orang lain lakukan. Tidak merugikanku, memang. Tapi jika yang kau rasa itu pilu, bagaimana aku tidak ikut merasa ngilu?

Ketika peduliku seperti tak kau hiraukan, tapi diamku kau anggap amarah. Mungkin memang benar. Bahkan lebih dari sekedar murka. Semenyebalkan apapun kamu, aku tidak bisa membencimu. Aku hanya membenci hal-hal yang kau lakukan yang tidak sesuai inginku. Aku mau peduli, tapi aku lelah tidak dihargai. Aku manusia biasa, batas kesabaranku dapat kau lihat jelas dengan mata. Jika sesuatu yang kukatakan baik, can’t you just take it? No need to argue with me. I’m tired, bro. Like the bottom of my heart, I’m tired.

Kalau sedang kecewa, hal yang paling enak untuk dilakukan apa ya? Karena ketika merasakannya, semua gairah tiba-tiba hilang begitu saja. Kegiatan yang biasa dilakukan untuk menghibur diri, mendadak tidak menarik lagi. Just wanna lay in bed, have a deep conversation with the wall, stare into blank space, and then feel my heart break into pieces. What a bad feelings!

Kadang hal yang paling manjur untuk mengobati kekecewaan adalah dengan memaksakan diri untuk melakukan berbagai macam pekerjaan yang menyibukkan sehingga memberi pengalih perhatian. Ketika malam mendera, tubuhmu terasa lelah dan tidak tersisa tenaga, hanya istirahat yang kita inginkan dengan segera. Beda cerita jika ternyata kekecewaan itu masih menghantui sampai ke dunia mimpi. Tidak ada tempat aman untuk berdamai dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, masa yang mengajak kita untuk melupa. Rindu yang membuat kita ingin kembali bersapa. Senyumnya, suaranya, semua yang biasa hadir dan menghiasi hari kita, pasti ada yang ganjil ketika itu semua tak ada dalam jangka waktu yang lama. Suatu ketika, semuanya kembali baik-baik saja seperti sedia kala. Dan kekecewaan lain akan datang lagi nantinya.

Cerpen Karangan: Wuri Wijaya Ningrum
Wuri W Ningrum – Seringkali rasa kecewa datang karena ekspetasi yang terlalu tinggi. Realita tidak sanggup mewujudkannya. Tapi manusia tanpa harapan, apa yang membuatnya hidupnya masih bisa terus berjalan?


Cerpen Kecewa merupakan cerita pendek karangan Wuri Wijaya Ningrum, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.


“Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!”



Share ke Facebook

Google+

” Baca Juga Cerpen Lainnya! “


Oleh: Rosanina Rizki Amelia

Aku mempunyai orang teman yang berinisial A dia adalah seorang cowok yang sangat tampan di kelas ku ya itu menurut ku tetapi entah apa menurut orang lain yang menilai



Oleh: Putri Nofita

30 Desember 2015 di sini aku mulai cerita baruku dan memulai hidup baruku dengan suamiku. Aku bernama Putri dan suamiku Yohan kami mempunyai perbedaan agama dan status, aku seorang



Oleh: Wita Nuraeni

Menjadi seorang yang jutek dan cuek bukan sikap yang disengaja, hanya saja aku ingin menjadi seseorang yang pantang untuk berharap dan memberi harapan. Bukan karena enggan membuka hati namun



Oleh: Anggi Doloksaribu

Namaku Aurel Azharia, baru aja jadi murid kelas 1 SMA di SMA Nusa II. Fyi, ini sekolah elit dan super favorit di kotaku. Proud banget aku bisa masuk sekolah



Oleh: Elf

Namaku selly atmaja, umur 19 tahun dan mahasiswi psikologi sebuah universitas negeri. Kebanyakan dari teman-temanku sudah memiliki kekasih tetapi ada juga beberapa yang bernasib sama denganku. Mungkin di usia


8 tahun cerpenmu



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
“Kalau iya… jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?”





Source link

Komunitas Penulis Cerpen Indonesia, Kumpulan Cerpen Karya Anak Bangsa