Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yakin proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, dapat direplikasi di seluruh sungai di Indonesia.

“Kami sudah melakukan di PLTS Cirata, proyek kerjasama dengan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) yang bisa direplikasi di seluruh sungai di Indonesia,” ujar Erick dalam peringatan HUT Ke-2 Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) seperti dikutip dari Antara, Selasa (8/2).

Ia mengatakan proyek PLTS tersebut mampu menghasilkan listrik hingga 145 Megawatt (MW) dan berpotensi mengurangi emisi sebesar 214 ribu ton.

Proyek PLTS Cirata sendiri merupakan PLTS terapung pertama di Indonesia dan sekaligus yang terbesar di ASEAN. Proyek tersebut juga sebagai alternatif penggunaan area perairan sebagai sumber energi.

Erick mengatakan dengan menggunakan area perairan sebagai sumber energi, tidak hanya sektor pertanian yang mendapatkan manfaat.

“Tetapi tentu industri lainnya sekaligus membuka peluang industri baru, penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih besar, harga energi yang lebih terjangkau serta tentu bermanfaat bagi kegiatan sosial dan ekonomi lainnya,” sambungnya.

Di sisi lain, harga jual listrik dari PLTS Terapung Cirata yang hanya US$5,81 per kWh telah menjadi acuan bagi pengembangan PLTS di Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan energi hijau, khususnya energi surya, menjadi salah satu prioritas untuk mencapai target penurunan gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030.

Tidak hanya itu, ia mengatakan pemanfaatan energi surya juga dapat mewujudkan target nol emisi (net zero emission) pada 2060 atau lebih cepat.

Dadan meminta PLN dapat mendorong pengembangan EBT, termasuk PLTS terapung yang memiliki potensi besar di PLTA eksisting dan waduk. [Gambas:Video CNN] (mrh/sfr)



Source link