Kontroversi George Soros, dan Kiprahnya di Balik Ekonomi Dunia (Bagian 1)

Kontroversi George Soros, dan Kiprahnya di Balik Ekonomi Dunia (Bagian 1)
Promo Hosting Murah


George%2BSoros%2Bbbc%2Bco%2Buk

Naviri Magazine – Media-media Britania pernah memberitakan sosok George Soros dengan negatif, dan menyebutnya sebagai “pria yang menghancurkan ekonomi Inggris”. Belakangan, hal serupa terjadi di negara-negara lain. Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi parah pada 1998, misalnya, banyak pihak menyatakan bahwa krisis finansial itu “diatur” oleh George Soros.

Read More

Di dunia keuangan, George Soros memang nama yang sangat terkenal, sekaligus kontroversial. Ada sebagian pihak yang menyebutnya pelaku finansial yang tak bermoral—karena tidak segan jika langkahnya di dunia keuangan berimbas buruk pada suatu negara—sementara sebagian kalangan lain menghormatinya sebagai guru ekonomi yang mumpuni.

Pada 2008, misalnya, George Soros menyatakan, “Jerman harus memimpin Uni Eropa atau sekalian keluar.” Saat itu Jerman tengah mengalami perlambatan ekonomi yang paling parah sejak unifikasi pada 1993. 

Sembilan tahun kemudian, Perancis mengeluhkan dominasi Berlin di Uni Eropa. Editorial harian konservatif Inggris The Sun menyatakan Uni Eropa sebagai “negara federal Jerman yang didominasi Jerman dan terus meluas”. Sosiolog Jerman Ulrich Beck percaya negaranya sedang jadi “Monster Eropa”. 

Belum genap sepuluh tahun saran Soros, Jerman menjadi negara kreditor terbesar UE. Kanselir Jerman Angela Merkel dan menteri keuangannya Wolfgang Schaeuble menentukan bagaimana krisis Yunani harus diatasi. Ketika krisis pengungsi merebak dua tahun silam, Merkel mengundang masuk pengungsi asal Suriah tanpa berkonsultasi kepada Uni Eropa. 

Soros juga bicara tentang Tiongkok yang menurutnya mendapat keuntungan besar dari globalisasi. Namun, model pertumbuhan yang didasarkan pada ekspor dan investasi sulit dipertahankan di saat tingkat pendapatan stagnan. Perlambatan ekonomi, tuturnya dalam sebuah wawancara, menciptakan pengangguran dan orang memilih untuk menabung.  

“Jadi, Tiongkok sudah gagal dalam tiga sektor ini: ekspor, investasi, dan konsumsi,” ujar Soros pada Chrystia Freeland dari Foreign Policy pada 2008.

Tahan Banting karena Perang

Michael T. Kaufman dalam biografi Soros: The Life and Times of a Messianic Billionaire, menyebut Soros sebagai “negarawan tanpa negara.”

Kaufman, reporter senior The New York Times, membungkus kisah Soros bak tokoh-tokoh karangan novelis Horatio Alger: merangkak dari bawah, rajin belajar, dan tekun bekerja hingga akhirnya sukses meraih mimpi-mimpi Amerika, suatu impian yang membuat negeri itu menjadi magnet para imigran yang menginjakkan kaki di Pantai Timur AS dari Eropa demi kedigdayaan finansial.

Soros lahir di Hungaria, 12 Agustus 1930. Usianya baru 13 tahun ketika Nazi menduduki tanah airnya. Pengalaman hidup di bawah pendudukan fasis, tampaknya berpengaruh besar pada cara pandang Soros terhadap dunia, yang menurutnya rapuh, rawan perang, kekuasaan otoriter, dan, beberapa dekade terakhir, spekulasi finansial—di mana ia salah satu pelakunya. 

Ia mengatakan riwayat keluarganya yang penuh pergolakan (ayahnya ditahan oleh pasukan Rusia di akhir 1940-an), memberikannya kemampuan “mengelola situasi yang jauh dari ekuilibrium.”

Soros dan kawannya, pengusaha Amerika Jim Rogers, mendirikan perusahaan pengelola investasi global (hedge fund) Quantum Group of Funds. Dalam krisis perbankan Inggris, perusahaan tersebut meraup £1 miliar. Quantum Fund adalah perusahaan pengelola dana investasi yang paling sukses di dunia, tulis Rupert Hargreaves untuk Business Insider. 

Di bawah kepengurusan Soros, Rogers, dan kemudian Druckenmiller Stanley, investor mendapatkan rata-rata 30 persen dari aset yang mereka titipkan ke Soros. “Investasi sebesar $1.000 akan tumbuh menjadi $4 juta pada 2000,” tulis Hargreaves. 

Daily Telegraph melaporkan, pada musim panas 1992, Soros mengendus devaluasi poundsterling, dan berharap keuntungan darinya. Ia meminjam sekitar £6,5 miliar dari Bank of England dan mengonversinya menjadi Deutchmark dan Franc (masing-masing mata uang Jerman dan Perancis sebelum Euro). 

Perkiraan Soros terbukti. Nilai mata uang Inggris yang semula tinggi segera ambrol. Setelah mengembalikan pinjaman awal, £1 miliar masuk ke rekeningnya. 

Spekulasinya juga menjangkau Asia. Krisis Finansial Asia dimulai ketika pemerintah Thailand menetapkan kurs mata uang Baht mengambang terhadap dolar. Dalam posisi tersebut, Soros memainkan skema yang sama hanya dengan dana kurang dari $1 miliar untuk menyerang Baht, yang segera turun nilainya, disusul Ringgit dan mata uang beberapa negara Asia lain, termasuk Korea, Filipina, dan Indonesia.

Mengetahui terjadi spekulasi, Bank of Thailand membeli Baht dengan dolar di pasar valuta asing, menaikkan suku bunga dan membatasi akses orang asing ke mata uang itu selama beberapa bulan pertama. 

Namun, tindakan ini malah menurunkan kredibilitas bank sentral Thailand. Krisis di Thailand kemudian merembet ke negara-negara tetangganya, termasuk Malaysia dan Indonesia. Dua negara ASEAN ini tercatat mengalami krisis yang cukup parah.

Lantaran krisis menyeret Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamad menyebut Soros “tolol”, dan krisis tersebut merupakan “plot Zionis yang tidak senang menyaksikan kemajuan umat Islam.” Soros bersikukuh hedge fund tidak memulai krisis; justru masalah diperburuk oleh reaksi Bank Sentral Thailand saat mengetahui keberadaan hedge fund. 

Baca lanjutannya: Kontroversi George Soros, dan Kiprahnya di Balik Ekonomi Dunia (Bagian 2)



Source link : Naviri.org

Majalah online. Menyajikan berita dan artikel seputar pengetahuan umum, gaya hidup, entertainment, dan teknologi.

Leave a Reply