Jakarta, CNN Indonesia — Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia mengatakan pasokan obat di dalam negeri sudah 90 persen diproduksi oleh farmasi nasional. Sementara, 10 persen sisanya diproduksi oleh perusahaan multinasional.

“Jadi 90 persen kebutuhan obat disuplai oleh industri farmasi nasional. Mengapa (industri farmasi) disebut sebagai aset bangsa? Industri farmasi sudah semakin mandiri dan bisa bersaing dengan luar negeri,” ujar Ketua Umum GP Farmasi Indonesia Tirto Kusnadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Rabu (2/2).

Tirto mengatakan dari 90 persen pasokan, GP Farmasi Indonesia hanya menerima 70 persen dari nilai obat yang ada. Di sisi lain, perusahaan multinational menerima 30 persen dari suplai 10 persen yang didistribusikan.

“Kalau masih disebut-sebut bahwa obat di Indonesia itu mahal itu, tentunya kita bisa melihat dari sini bahwa banyakan itu yang masih diproduksi oleh multinational atau perusahaan asing kami saat ini. Sebetulnya kami merasa bahwa obat di Indonesia sudah sangat murah terutama untuk kebutuhan rakyat melalui JKN, BPJS dan sebagainya,” jelas Tirto.

Ia menjelaskan industri farmasi di Indonesia melakukan riset dan pengembangan sebelum memproduksi obat yang sudah memberikan nilai tambah dalam produksi. Sementara itu, masih banyak bisnis lain yang menggunakan valuta asing sedemikian besar, tanpa memberi nilai tambah.

“Tenaga kerja dalam industri farmasi ada kurang lebih 1 juta tenaga kerja. Ini prosesnya semua bahan baku diimpor yang kami olah, kami jadikan menjadi obat,” tegasnya. [Gambas:Video CNN] (sfr/sfr)



Source link