TEMPO.CO, JakartaVarian Omicron telah menyebar di berbagai daerah. Hal itu menjadi sumber kekhawatiran berbagai pihak karena varian ini disinyalir jauh lebih menular dan lebih sulit untuk dideteksi.

Dilansir dari nature.com, varian Omicron sangat sulit untuk dideteksi keberadaannya karena memiliki gejala yang mirip dengan varian dan penyakit lainnya. Adapun gejala Omicron sangatlah general, seperti hidung berair, bersin-bersin, demam, dan sebagainya.

Beberapa varian turunan dari Omicron juga sulit dideteksi oleh alat tes biasa, seperti rapid test atau PCR. Dilansir dari livemint.com, varian Omicron BA.2 yang disebut sebagai varian siluman itu sulit untuk dideteksi. Sebab, varian tersebut memiliki karakteristik genetik yang unik sehingga alat deteksi konvensional sulit mendeteksinya.

Untuk mendeteksi varian Omicron, Kementerian Kesehatan RI menggunakan tes PCR metode S-gene target failure (PCR-SGTF). Dilansir dari jamanetwork.com, metode PCR-SGTF merupakan tes PCR yang mengandalkan pemeriksaan beberapa target genetik sekaligus dalam satu sampel. Dalam pemeriksaan tersebut, Covid-19 varian Omicron dideteksi dengan mengidentifikasi adanya gen-S 69-70del dalam sampel tersebut.

PCR-SGTF dinilai lebih cepat dalam mengidentifikasi dan menangani Covid-19 varian Omicron. Dilansir dari Antara, untuk keperluan surveilans atau pengawasan varian Omicron, PCR-SGTF terbukti lebih cepat daripada alat deteksi lain. Selain itu, PCR-SGTF juga lebih cepat untuk keperluan deteksi dini Covid-19 varian Omicron.

BANGKIT ADHI WIGUNA | BISNIS | ANTARA

Baca juga: Pemerintah Tingkatkan Tes SGTF Usai Temuan Transmisi Lokal Omicron




Source link