“Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai 23 persen energi baru dan terbarukan pada bauran energi pada 2025. Di akhir 2021, bauran energi dari energi baru terbarukan telah mencapai sekitar 11,7 persen,” kata Menteri ESDM dalam keterangan di Jakarta, Rabu, 16 Februari 2022.
Pada peta jalan tersebut, tambahan pembangkit listrik setelah 2030 hanya dari pembangkit listrik energi baru terbarukan. Mulai 2035, pembangkit listrik akan didominasi oleh energi terbarukan variabel dalam bentuk tenaga surya, diikuti tenaga angin dan arus laut pada tahun berikutnya.
Hidrogen juga akan dimanfaatkan secara gradual mulai 2031 dan secara masif pada 2051. Kemudian tenaga nuklir akan masuk dalam sistem pembangkitan mulai 2049.
Dalam upaya mencapai target bauran energi baru terbarukan, Kementerian ESDM mengesahkan regulasi terkait PLTS atap. Pemerintah menargetkan ada tambahan 3,6 gigawatt PLTS atap yang terpasang pada 2025.
Menteri Arifin menyampaikan Indonesia memiliki radiasi matahari yang maksimal karena berada di negara tropis yang cocok untuk PLTS atap. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki potensi energi angin, air, dan arus laut.