Jakarta, CNN Indonesia — Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers Index (PMI) China merosot ke 49,1 pada Januari 2022. Realisasi ini diklaim sebagai angka terendah sejak 11 bulan terakhir.

Turunnya PMI China ditengarai oleh penguncian wilayah (lockdown) yang diberlakukan pemerintah untuk menanggulangi kenaikan kasus positif covid-19 yang merebak di Negeri Tirai Bambu itu.

Tadinya, ekonom memperkirakan indeks akan turun ke 50,4 dari 50,9 pada Desember lalu. Namun, pelemahan yang terjadi justru di bawah ekspektasi, sehingga pasar mendorong pemerintah untuk meluncurkan lebih banyak insentif bagi industri demi menstabilkan ekonomi.

Bank Sentral China, People’s Bank of China (PoB), telah melakukan sejumlah upaya moneter, seperti memangkas suku bunga dan menyalurkan lebih banyak uang tunai ke dalam sistem keuangan agar menurunkan biaya pinjaman.

PoB diharapkan masih akan memberikan pelonggaran moneter lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang.

Di lain sisi, permintaan barang dan ekspor juga ikut turun sejak beberapa bulan yang lalu. Padahal, sektor ekspor menjadi salah satu andalan China dalam memompa ekonominya pada semester kedua tahun lalu.

“Dari Desember hingga Januari, kebangkitan Covid-19 di beberapa wilayah termasuk Xian dan Beijing memaksa pemerintah daerah untuk memperketat tindakan pengendalian epidemi, yang membatasi produksi, transportasi, dan penjualan barang-barang manufaktur,” ungkap Ekonom Senior di Caixin Insight Group Wang Zhe dikutip dari Reuters, Minggu (30/1).

Provinsi Xian sebagai pusat manufaktur China mengalami lonjakan kasus covid-19 sejak akhir Desember dan memaksa banyak perusahaan untuk menutup sementara operasionalnya.

Walaupun masih dihantui inflasi, produsen manufaktur masih tetap optimis China mampu mengendalikan pandemi pada tahun ini.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, China mengalami pasang surut ekonomi akibat pandemi covid-19. Ekonomi China sempat jatuh akibat dihantam pandemi hingga masalah utang properti yang melanda beberapa perusahaan di sana.

Dana Moneter Internasional (IMF), Rabu (26/1), akhirnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China dari 5,6 persen menjadi 4,8 persen. [Gambas:Video CNN] (fry/bir)



Source link