TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merevitalisasi Pasar Mardika di Ambon. Direktur Prasarana Strategis PUPR Essy Asiah mengatakan pembaruan wajah infrastruktur penunjang perdagangan di masyarakat ini akan dikelola lebih profesional.

“Alokasi dana pengelolaan, dan memastikan daftar pedagang yang akan menempati kios/los sesuai dengan jenis dagangannya,” kata Essy dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 28 Januari 2022.

Selain itu ia mengatakan, pasar akan dibuat lebih nyaman, bersih, dan tertata lebih baik. Lokasi perdagangan bagi masyarakat ini pun bisa menjadi pelopor yang menerapkan Building Information Modelling (BIM) di Kepulauan Maluku.

Sesuai Peraturan Menteri PUPR Nomor 22 Tahun 2018, Pasar Mardika termasuk dalam kategori bangunan tidak sederhana yang luasnya di atas 2.000 m2 dan di atas dua lantai. Maka dalam pelaksanaan konstruksinya juga dipersyaratkan agar menerapkan BIM.

Peletakan batu pertama revitalisasi dilakukan pada Kamis, 27 Januari 2022. Direktur Jenderal Cipta Karya Diana Kusumastuti juga berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah Provinsi Maluku dan Kota Ambon selama pelaksanaan konstruksi.

“Besar harapan saya agar hasil pembangunan pasar ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Ambon,” kata Diana dalam kesempatan yang sama.

Gubernur Maluku Murad Ismail ingin semua pihak yang terlibat bisa merampungkan pembangunan infrastruktur tersebut dalam waktu 480 hari. Ketika 2023 mendatang telah usai, Murad ingin pasar tersebut menjadi ikon baru.

“Kita harapkan bisa selesai tepat waktu atau bahkan bisa lebih cepat. Saat sudah terbangun nanti, Pasar Mardika akan menjadi ikon baru bagi masyarakat Kota Ambon,” kata Murad.

M FAIZ ZAKI

Baca juga: Bank Indonesia: Modal Asing Keluar pada Pekan IV Januari Rp 5,34 Triliun

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.




Source link