Safrudin Dwi Apriyanto

Safrudin Dwi Apriyanto atau yang lebih akrab dengan panggilan ‘Apri’ adalah salah satu politisi muda Jambi yang muncul di era Reformasi.
Pria kelahiran Solo, 6 April 1975 ini menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Kuamang Kuning Kabupaten Bungo dan menyelesaikan S-1 di Universitas Jambi.
Sejak duduk di bangku SMP hingga bangku kuliah di Universitas Jambi- sudah aktif berkecimpung dalam dunia organisasi, mulai dari OSIS, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Senat Mahasiswa Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Islam, KAMMI, dan Partai Keadilan Sejahtera.

Mahasiswa Berprestasi Universitas Jambi tahun 1997 ini- pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Jambi (2004-2009) dan anggota DPRD Kota Jambi (2009-2014).
Kini dipercaya sebagai ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jambi dan merupakan ketua parpol termuda untuk tingkat provinsi.
Berbagai kursus dan pelatihan tentang keorganisasian, manajemen, kepemimpinan, dan motivasi diri pernah diikuti.

Pada tahun 2006- mengikuti kegiatan ‘International Visitor Leadership Programme (IVLP)’ ke Amerika Serikat- dan melakukan diskusi dengan politisi dari Partai Republik, Partai Demokrat, aktivis lingkungan, dan para penegak hukum di beberapa negara bagian.
Selain aktif di dunia politik, Dwi juga mendirikan lembaga ‘The Jambi Institute’ dan aktif dalam dunia kepenulisan- buah pemikirannya banyak dipublikasikan di beberapa media cetak, seperti jambi ekspres, jambi independen, jambi star, jambi today, jambi one, dan beberapa media online serta aktif menjadi narasumber di media elektronik.

Tinggal di Kota Jambi bersama istrinya, Nining Wilasari, SE- serta putra-putrinya, Syifa Aulia Kusuma, Faiz at Thariq, dan Zahra Maryam al-Batul.

#‎sejatinya‬ pilkada itu hanyalah sebuah ‘kompetisi’ politik biasa- krn itu, rivalitas hrs tetap dijaga dan dilokalisir agar tetap berada di arena- bhw ada perbedaan sikap dan pilihan, itu adalah bagian dari dinamika politik yg diakomodir dlm negara demokrasi, mjd penting bagi kita semua utk menciptakan iklim yg kondusif menuju pilkada yg damai dan nyaman- biarlah publik sbg pemilik suara utk memberikan saham kepercayaannya pada hari H nanti- menurut saya, menjaga keutuhan dan kerukunan dlm kehidupan bermasyarakat itu jauh lebih penting ketimbang pilkada itu sendiri- proses pilkada akan mjd semacam ujian bagi kita sbg anak bgs- thd kedewasaan dan kebesaran jiwa, khususnya dlm menyikapi aneka perbedaan yg ada- wallahu a’lam#

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Tinggalkan Balasan