TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo alias Tiko memaparkan kondisi terkini Garuda Indonesia. Tiko menyatakan jumlah pesawat servicable atau armada yang beroperasi kini tinggal 29 unit dari sebelumnya 71 unit.

“Garuda selama dua tahun terakhir mengalami permasalahan penunggakan pembayaran leasing pesawat dan saat ini hanya 29 (jumlah pesawat) dari kondisi awal. Garuda beroperasi sangat terbatas,” ujar Tiko di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 22 April 2022.

Jumlah pesawat Garuda terus merosot dari waktu ke waktu. Sebelum restrukturisasi, Garuda memiliki 142 unit pesawat. Jumlah itu berkurang 50 persen pada 2021 dan kembali berkurang setengah pada 2022.

Keterbatasan alat produksi ini, kata Tiko, menambah beban bagi maskapai. Jumlah pesawat yang terbatas telah mengurangi pendapatan secara signifikan.

Berdasarkan laporan keterbukaan Bursa Efek Indonesia, kinerja keuangan Garuda hingga kuartal III 2021 mencatatkan pendapatan US$ 568 juta atau setara dengan Rp 8,06 triliun. Sedangkan saat itu, Garuda menanggung beban atau biaya operasional sebesar US$ 1,29 miliar atau Rp 18,3 triliun.

Kondisi kinerja Garuda pada awal 2022 pun masih tertekan lantaran kenaikan harga avtur akibat gejolak geopolitik dunia. “Jadi ketika akhir Desember (2021 kinerja Garuda) positif, pada Januari (2022) kami mengalami penurunan,” ucap Tiko.




Source link